PAMEKASAN,MADURAORBIT.id — Alih-alih pesta, Madura United FC justru menorehkan aib di malam ulang tahun ke-10 klub. Di hadapan pendukung sendiri, Laskar Sape Kerrap dihajar tanpa ampun oleh PSIM Yogyakarta dengan skor telak 0-3 pada lanjutan BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan (SGMRP), Sabtu malam.
Atmosfer perayaan berubah menjadi amarah, kekecewaan, dan kekacauan. Madura United bukan hanya kalah skor, tetapi runtuh secara mental.
Sejak awal laga, Madura United tampil agresif dan ngotot. Peluang demi peluang tercipta, namun lagi-lagi lini depan tumpul. Dominasi tanpa gol itu justru menjadi bumerang.
Pada menit ke-44, kesalahan fatal Nurdiansyah yang menginjak kaki Ezequiel Vidal berujung kartu merah setelah wasit meninjau VAR. Sejak saat itu, pertandingan sepenuhnya lepas dari kendali tuan rumah.
PSIM tak membuang kesempatan. Babak kedua menjadi panggung penghukuman. Fahreza Sudin membuka kran gol pada menit ke-56, disusul Franco Ramos Mingo dua menit kemudian. Lima menit berselang, Fahreza kembali mencabik pertahanan Madura. Dalam waktu tujuh menit, harapan tuan rumah benar-benar dikubur.
Madura United mencoba melawan dengan 10 pemain, namun serangan mereka tak lebih dari luapan emosi tanpa arah. Pertahanan PSIM berdiri kokoh, seolah menertawakan upaya putus asa Laskar Sape Kerrap.
Ketegangan semakin memuncak pada menit ke-73 saat Franco Ramos Mingo diusir wasit, membuat laga kembali imbang jumlah pemain.
Namun Madura United tetap tak berdaya. Puncak frustrasi terjadi di menit ke-90+2 ketika kiper Miswar Saputra juga diganjar kartu merah—sebuah simbol runtuhnya disiplin dan kontrol tim tuan rumah.
Pelatih Madura United, Carlos Parreira, tak menampik bahwa kekalahan ini adalah pukulan keras.
Pelatih Madura United, Carlos Parreira, tak menampik bahwa kekalahan ini adalah pukulan keras.
“Kami menciptakan banyak peluang, tetapi gagal total dalam penyelesaian akhir. Kartu merah membuat situasi semakin sulit,” ujarnya singkat, dengan nada kecewa.
Hasil ini membuat Madura United terperosok di papan bawah klasemen, tertahan di posisi ke-13 dengan 17 poin. Sebaliknya, PSIM Yogyakarta pulang membawa kemenangan besar dan naik ke peringkat enam dengan 30 poin.
Ironisnya, malam yang seharusnya menjadi kado ulang tahun ke-10 klub justru berubah menjadi luka mendalam bagi publik Pulau Garam.
Kekecewaan suporter tak terbendung, bahkan suasana pasca laga memanas setelah sejumlah ofisial Madura United meluapkan kemarahan kepada pendukung sendiri.
Di SGMRP, malam perayaan berubah menjadi malam penghakiman. Madura United bukan sekadar kalah—mereka dipermalukan di hari jadinya sendiri.
Penulis : Redaksi
















