SAMPANG, MADURAORBIT.id – Pantai Lon Malang, Kabupaten Sampang, kembali ramai oleh gelaran Festival Jhukok Tonuh, Sabtu (13/12/2025). Ribuan pengunjung memadati kawasan pesisir, lapak-lapak ikan ludes diserbu pembeli, dan nelayan merasakan peningkatan pendapatan.
Namun di balik kemeriahan itu, muncul satu pertanyaan krusial: apakah festival ini benar-benar menggerakkan ekonomi rakyat atau hanya berhenti sebagai agenda pariwisata seremonial?
Sejak pagi, deretan nelayan dan pelaku UMKM menjajakan hasil laut segar langsung di bibir pantai. Ikan bakar, olahan laut khas Madura, hingga hasil tangkapan mentah habis terjual. Antrean panjang di lapak-lapak sederhana menjadi bukti nyata bahwa perputaran uang terjadi langsung di tangan masyarakat pesisir.
Bagi nelayan, Festival Jhukok Tonuh memberi ruang jual tanpa perantara. Tidak ada tengkulak, tidak ada rantai distribusi panjang. Laut, nelayan, dan pembeli bertemu dalam satu ruang. Di sinilah ekonomi rakyat benar-benar bergerak.
Namun demikian, sejumlah pihak menilai kemeriahan festival tidak boleh berhenti pada panggung hiburan dan seremoni tahunan semata. Tanpa keberlanjutan dan skema pemberdayaan yang jelas, event semacam ini berpotensi hanya menjadi euforia sesaat yang tak meninggalkan dampak jangka panjang bagi nelayan dan UMKM.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sampang, Marnilem, menegaskan bahwa Festival Jhukok Tonuh dirancang untuk mendorong ekonomi masyarakat, bukan sekadar tontonan.
“Fokus kami adalah bagaimana masyarakat pesisir, nelayan, dan UMKM merasakan manfaat langsung. Festival ini menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi berbasis budaya lokal,” ujarnya.
Pemerintah daerah menilai Pantai Lon Malang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis budaya pesisir. Namun penguatan ekonomi rakyat dinilai harus berjalan seiring dengan keberlanjutan program, mulai dari pendampingan UMKM, promosi berkelanjutan, hingga kepastian ruang usaha bagi nelayan.
Pengelola Pantai Lon Malang, Mastuki, juga berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda simbolik.
“Kami ingin festival seperti ini bukan hanya ramai sehari, lalu selesai. Harus ada kesinambungan agar ekonomi warga sekitar benar-benar tumbuh,” ungkapnya.
Festival Jhukok Tonuh telah membuktikan satu hal: ketika ruang diberikan, nelayan dan UMKM mampu menggerakkan ekonomi pesisir. Tantangannya kini ada pada pemerintah—menjadikan festival ini bukan sekadar panggung seremonial, tetapi pijakan nyata bagi kesejahteraan rakyat pesisir Madura.
Penulis : Redaksi
















